Dari Sungai Maut ke Pelukan Terakhir: Kepulangan Sunyi Aiptu Sumariyanto, Bhayangkara yang Gugur Memburu Bandar Narkoba

Berita, Nasional79 Dilihat

 

 

LEPASNEWS.COM. PALANGKA RAYA – Harapan itu sempat hidup selama tiga hari. Keluarga terus menanti kabar baik, berharap Aiptu Sumariyanto ditemukan dalam keadaan selamat setelah dilaporkan hilang saat menjalankan operasi pemberantasan narkoba di pedalaman Kabupaten Katingan.

Namun, Minggu (5/7/2026), harapan itu luruh bersama deru ambulans yang memasuki halaman RS Bhayangkara Palangka Raya sekitar pukul 13.50 WIB.

Bukan langkah tegap seorang Bhayangkara yang datang, melainkan sebuah peti jenazah yang membawa pulang kisah pengabdian yang berakhir tragis.

Tangis keluarga pun pecah. Kesedihan yang selama berhari-hari dipendam akhirnya tumpah tanpa bisa dibendung. Pelukan demi pelukan menjadi penawar yang tak pernah benar-benar mampu mengobati luka kehilangan.

Di hadapan mereka, Aiptu Sumariyanto akhirnya pulang bukan dengan senyum kemenangan setelah menuntaskan tugas negara, tetapi dalam keheningan yang menyayat hati.

Di antara kerumunan pelayat, hadir rekan-rekan sesama anggota Polri yang datang memberikan penghormatan terakhir. Wajah mereka menyimpan duka yang sama.

Mereka kehilangan bukan sekadar seorang personel, melainkan sahabat yang telah menemani perjalanan panjang sejak masa pendidikan kepolisian.

AKP Miftah Khoiri, teman satu angkatan tahun 2000, tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat mengenang almarhum.

“Selama di mes, beliau bergaul dengan baik kepada semua teman. Orangnya ramah, akrab, dan selalu bersama dalam setiap kegiatan,” tuturnya.

Di mata Miftah, Sumariyanto adalah sosok yang sederhana, ringan tangan, dan tak pernah menghindar ketika tugas memanggil. Kerja keras dan rasa tanggung jawab telah menjadi bagian dari hidupnya sejak masih menjadi siswa polisi.

“Beliau adalah teman yang sangat baik. Kami benar-benar merasa kehilangan,” ujarnya lirih.

Tragedi yang merenggut nyawa Aiptu Sumariyanto bermula pada Kamis dini hari (2/7/2026). Saat sebagian besar warga masih terlelap, personel Satresnarkoba Polres Katingan bergerak menuju Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah. Target mereka adalah dua terduga bandar sabu berinisial BIO dan BU, dalam sebuah operasi yang diharapkan mampu memutus rantai peredaran narkotika di wilayah tersebut.Namun, operasi itu berubah menjadi mimpi buruk.

Diduga keluarga target operasi melakukan perlawanan hingga bentrokan tak dapat dihindari. Situasi memanas dalam hitungan menit. Di tengah kepungan dan kekacauan, sejumlah personel berusaha menyelamatkan diri dengan menyeberangi sungai yang membelah kawasan itu.

Sejak saat itulah kabar Aiptu Sumariyanto dan Bripda Nopandri Ramadhana terputus. Pencarian besar-besaran dilakukan siang dan malam, menyisir tepian sungai, semak belukar, hingga aliran air yang deras. Setiap jam yang berlalu menjadi beban berat bagi keluarga yang terus menggantungkan harapan.

Tragedi itu juga lebih dahulu merenggut nyawa Aipda Yudhie Perdana Putra yang gugur saat bertugas. Seorang warga bernama Teriyo (40), yang merupakan keluarga target operasi, juga meninggal dunia dalam bentrokan tersebut.

Harapan untuk menemukan dua personel yang hilang akhirnya pupus satu per satu. Bripda Nopandri Ramadhana ditemukan meninggal dunia pada Sabtu (4/7/2026) dan telah dimakamkan setelah menjalani pemeriksaan forensik.

Sehari kemudian, tim pencarian kembali menemukan jasad Aiptu Sumariyanto di aliran DAS Rantau Asem, Kecamatan Katingan Tengah. Penemuan itu mengakhiri pencarian yang menyita perhatian publik sekaligus menambah panjang daftar duka dalam operasi pemberantasan narkoba tersebut.

Meski jasad almarhum telah ditemukan, penyelidikan belum berakhir. Kepolisian masih menunggu hasil pemeriksaan forensik untuk memastikan penyebab pasti kematian Aiptu Sumariyanto, termasuk mendalami kemungkinan adanya luka akibat senjata tajam.

Kini, di balik garis polisi, proses penyidikan, dan pencarian fakta, tersisa kisah pilu tentang seorang Bhayangkara yang berangkat membawa tekad menegakkan hukum, tetapi kembali dalam balutan keheningan. Pengabdiannya terhenti di medan tugas, sementara doa keluarga, penghormatan rekan-rekan, dan rasa kehilangan masyarakat mengiringi langkah pulang terakhirnya.

Di balik setiap operasi besar melawan narkotika, selalu ada risiko yang dipikul para penegak hukum. Dan bagi keluarga Aiptu Sumariyanto, perjuangan itu kini telah berubah menjadi kenangan yang tak akan pernah usai, kenangan tentang seorang ayah, sahabat, dan anggota Polri yang mengorbankan hidupnya demi menjalankan amanah negara.(**)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *