LEPASNEWS.COM BONE – Kebudayaan kita mewariskan sebuah kekuatan hukum yang hidup. Ia tidak tertulis di pasal-pasal, namun berdenyut di dalam nadi masyarakat. Meski tak semua memahaminya secara konseptual, ia telah menjadi tatanan adaptasi sosial yang paling tua.
Garis terang itu, di dalam Lontara disebut JORI Ia adalah batas yang tegas antara baik dan buruk, antara benar dan salah. Nama dari garis terang itu adalah PANGADERENG
Pangadereng berkorelasi langsung dengan kosmologi, dengan kesemestaan. Sehingga yang mengadili bukan hanya manusia. Ketika keadilan manusia buntu, maka alam semesta sendiri yang akan turun mengadili. Dalam bahasa Lontara, inilah yang disebut MABUSUNG Alam akan bergejolak, padi akan hampa, laut akan murka, untuk menunjukkan ada kebenaran yang dilanggar.
Secara luas, Pangadereng adalah hukum itu sendiri. Secara khusus, unsur yang menjadi jantungnya disebut BICARA
Dan asas dari BICARA adalah MAPPASISAU Artinya, kedua belah pihak yang bertikai dipertemukan untuk bersepakat berdamai. Tujuannya bukan untuk menghukum, melainkan agar kedua belah pihak merasa lega, SAU ATINNA Inilah keluhuran peradaban kita: mendahulukan perdamaian daripada penghukuman.
Namun ketika perdamaian dikhianati, ketika JORI dilanggar dengan sengaja, maka sanksi harus ditegakkan. Dalam disertasi saya yang merujuk langsung pada Lontara, saya menemukan tujuh tingkatan sanksi adat:
1. Ri Reppung: Ditangkap dan dipenjarakan
2. Ri Pali: Diasingkan dari kampung halamannya
3. Ri Gora’: Disita hartanya, dimiskinkan
4. Ri Lamung: Diganduli batu dan ditenggelamkan
5. Ri Pakka: Diikat pada kayu berbentuk Pakka
6. Ri Pano Addenenna: Diturunkan dari jabatannya, dicabut kemuliaannya
7. Ri Paggenoi Wennang Cella: Dipotong lehernya
Maka jangan pernah ragu. Karena TEMMATE TONGENGE Kebenaran tidak akan pernah mati. Segala isu yang berkembang dan menimbulkan kegaduhan hari ini, pada waktunya akan menemukan kebenarannya sendiri. Alam akan menyeleksinya.
Bagi masyarakat, polemik asusila yang menerpa AJJOARENG kita, hendaknya mendewasakan kita semua. Tetaplah tenang, jangan gegabah, tahanlah diri. Yakinlah, bahwa kebenaran takkan pernah mati.(*)







