Demo Tolak Kenaikan PBB P2 di Bone Wartawan TV Nasional dan Wartawan Online Mendapatkan Intimidasi Dari Petugas Keamanan Saat Melakukan Tugas Jurnalis 

Berita, Daerah, Peristiwa356 Dilihat

LEPASNEWS.COM BONE – Aksi demonstrasi penolakan kenaikan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) di Kabupaten Bone berakhir ricuh, Selasa (19/08/25) lalu

Kericuhan pecah meski sebelumnya pemerintah daerah telah memastikan pembatalan rencana kenaikan pajak tersebut.

Puluhan demonstran dilaporkan menjadi korban akibat tindakan represif aparat gabungan yang bertugas mengamankan jalannya aksi.

Salah satu yang menjadi korban Intimidasi yakni Jurnalis TV Nasional CCN Indonesia, Zulkifli menjelaskan bahwa Awalnya ia berlari masuk ke ruangan WC kantor Pemda untuk berlindung setelah ikut terkena gas air mata.

“karena mata terasa perih dan sesak nafas akibat asap gas air mata. Saat kondisi kepala pening dan mata sudah pulih, saya lanjut berjalan dan tembus ruang lobby kantor. Disana ada banyak anggota TNI. Saya sempat refleks ambil gambar anggota TNI yg terluka, yang katanya kena lemparan batu.” Ucapnya.Kamis (21/08/2025).

Namun di waktu bersamaan muncul satu demonstran yang dipiting dan di evakuasi oleh anggota TNI katanya diamankan setelah tertangkap, refleks saya kemudian berbalik ambil gambarnya, namun kemudian dihalangi dan diteriaki jangan ambil gambar di sini.

“Anggota berbaju loreng sekitar 5-6 orang  kemudian maju dan memegangi saya. ada yang sempat piting juga, tapi saya terus maju minta hp agar gambar saya jangan di hapus, tapi hp saya direbut paksa dari tangan  yang sudah tergenggam erat, kemudian dia hapus beberapa video hasil liputan.” Tambahnya.

Setelah itu saya teriak jangan hapus semua video saya, lalu saya terus maju tapi kemudian didorong anggota loreng lain di depanku.

“Mereka pun kemudian menyerahkan hp saya setelah tidak tahu mau hapus video di galeri sampah.saya kemudian di paksa hapus di galeri sampah dengan disaksikan sejumlah anggota TNI untuk memastikan 1 video diokasi lobby betul-betul terhapus di galeri.” Tandasnya.

Senada, Hal serupa juga terjadi terhadap Adry dari jurnalis media lokal setempat. Dia mengaku diancam akan ditangkap jika mereka aksi kekerasan oknum aparat ke pendemo yang diamankan.

“Tadi saya dua kali diintimidasi oleh oknum aparat dari TNI. Mereka meminta untuk tidak melakukan live. Itu karena mereka tak mau ketahuan memukul pendemo,” ungkap Adry.

Apa yang dilakukan oknum aparat tersebut membuat Adry dan beberapa jurnalis merasa tidak nyaman dan terancam.

“Kita ini sama-sama bertugas dan diatur dalam undang-undang. Sebagai jurnalis saya sudah menunjukkan id card. Namun tetap diperlakukan seperti itu,” ungkapnya.

Adry pun meminta kepada pihak kepolisian dan TNI. Agar melakukan evaluasi khususnya terkait dengan

kemitraan dengan jurnalis ketika bertugas di lapangan.

“Mereka tidak paham kerja jurnalis. Kita ini bukan netizen, jelas aturannya kok,” tukasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *