LEPASNEWS.COM. BONE – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 resmi dibuka. Seiring dimulainya proses pendaftaran, para orang tua siswa diimbau untuk tidak hanya berfokus pada sekolah favorit, tetapi juga mempertimbangkan minat, bakat, serta potensi yang dimiliki anak.
Mengingatkan agar masyarakat mengikuti proses pendaftaran sesuai jadwal yang telah ditetapkan dan memastikan seluruh dokumen persyaratan telah dipersiapkan dengan lengkap.
Transparansi dan objektivitas dalam pelaksanaan SPMB diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh calon peserta didik.
Di sisi lain, sejumlah kepala sekolah mengajak masyarakat untuk menghilangkan stigma bahwa hanya sekolah tertentu yang mampu menghasilkan lulusan berkualitas.
Dinas Pendidikan Kabupaten Bone mendorong pemerataan penerimaan peserta didik baru di seluruh sekolah, baik tingkat SD maupun SMP.
Hal tersebut disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Bone, Edy Saputra Syam, saat menanggapi fenomena masih banyaknya orang tua yang memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang dianggap favorit.
Menurut Edy, pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tetap mengacu pada petunjuk teknis yang telah ditetapkan pemerintah.
Namun di balik itu, pihaknya berharap terjadi pemerataan jumlah siswa di seluruh sekolah yang ada di Kabupaten Bone.
“Kita merujuk pada juknis yang ada. Tetapi harapan kami, penerimaan siswa di sekolah-sekolah bisa lebih merata. Jangan sampai semua orang tua hanya menginginkan anaknya masuk ke sekolah tertentu yang dianggap unggulan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (05/06/2026).
Edy menilai kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketimpangan jumlah siswa antarsekolah.
Ia mengungkapkan masih ada sekolah yang menerima siswa dalam jumlah sangat sedikit karena banyak calon peserta didik memilih bersekolah di tempat lain.
Karena itu, Dinas Pendidikan Bone terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui program Sekolah Model Beramal yang telah diluncurkan beberapa waktu lalu.
Menurutnya, program tersebut diharapkan menjadi motivasi bagi sekolah-sekolah di setiap kecamatan untuk terus meningkatkan mutu pendidikan.
“Harapan kami, Sekolah Model Beramal menjadi pemantik bagi sekolah-sekolah lain untuk terus berkembang, baik dari sisi fasilitas maupun kualitas tenaga pendidiknya,” katanya.
Ia menjelaskan, jika kualitas sekolah semakin merata, masyarakat tidak lagi terpaku pada sekolah tertentu saat memilih tempat belajar bagi anaknya.
Dengan demikian, siswa dapat bersekolah di sekolah yang lokasinya lebih dekat dengan tempat tinggal mereka.
“Kalau semua sekolah memiliki kualitas yang baik, tentu orang tua tidak perlu lagi mencari sekolah yang jauh dari rumah hanya karena dianggap lebih unggul,” ujarnya.
Edy juga mengaku prihatin terhadap sejumlah sekolah yang mengalami penurunan jumlah peserta didik baru.
Bahkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, terdapat sekolah yang hanya menerima sekitar 25 siswa baru dalam satu tahun ajaran.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena berkaitan dengan keberlangsungan sekolah ke depan.
“Jangan sampai ada sekolah yang tidak mendapatkan siswa baru. Kalau terus terjadi, tentu akan berdampak terhadap keberlangsungan sekolah itu sendiri,”tandasnya.
Fokus utama seharusnya bukan pada gengsi sekolah, melainkan pada upaya menemukan lingkungan pendidikan yang mampu mendukung perkembangan akademik dan karakter peserta didik secara optimal.












