Dr. Taufik Ahmad: Intelektual yang Tak Pernah Lupa Pulang

Berita, Opini685 Dilihat

Oleh: Irham Ihsan, SH., M.Si

LEPASNEWS.COM BONE –Sekitar pukul 23.11 Wita, Sabtu malam, kabar duka itu datang melalui grup WhatsApp Sompung Lolona Cenrana. Salah satu anggota grup — yang juga sepupu beliau — mengabarkan bahwa Dr. Taufik Ahmad, S.Pd., M.Pd. berpulang ke rahmatullah di Jakarta, Sabtu, 18 Oktober 2025, sekitar pukul 19.00 WIB.

Saya seakan tidak percaya. Baru beberapa waktu lalu kami masih berdiskusi melalui pesan WhatsApp tentang warisan budaya dan situs sejarah peninggalan Kerajaan Bone, terutama di wilayah Cenrana. Beliau juga baru saja memberi sumbangan untuk Turnamen Sepak Bola Piala Kemerdekaan Pemuda Cenrana 2025 dengan pesan singkat: “Tulis saja hamba Allah.”

Kepeduliannya pada kampung halaman tidak pernah pudar, meski telah lama merantau. Beliau selalu hadir dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan yang kami lakukan di Sompung Lolona Cenrana — bentuk nyata cinta seorang perantau kepada tanah kelahirannya.

Ada satu hal yang sangat personal bagi saya: beliau membantu saya menyelesaikan tesis magister tanpa pamrih. Beliau sabar membimbing, memberi semangat, dan mendorong saya untuk melanjutkan studi doktoral. “Kalau nanti lanjut S3, saya bantu lagi,” katanya suatu kali. Sayangnya, ajakan itu belum sempat saya wujudkan hingga akhir hayatnya.

Jejak Intelektual dan Karya Akademik

Dr. Andi Taufik Ahmad lahir di Cenrana, Bone, tahun 1976, dari keluarga ulama terkemuka, Ustaz A. Ahmad Makka. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 79 Cenrana dan melanjutkan enam tahun di Pesantren As’adiyah Sengkang, tempat ia menyerap disiplin dan tradisi keilmuan yang kelak menjadi dasar karier akademiknya.

Sarjana Pendidikan Sejarah ia raih di Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan skripsi “Permesta: Perjuangan Mewujudkan Otonomi Daerah (1957–1961)” yang mengantarkannya lulus cum laude. Tahun 2005 ia melanjutkan studi magister di Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan tesis “Komunitas Tahanan Politik PKI Moncongloe Sulawesi Selatan: Kontrol Negara yang Berlapis (1969–1977).”

Riset ini melambungkan namanya sebagai sejarawan muda yang berani dan peka terhadap isu sosial. Dari penelitian itu lahir buku Kamp Pengasingan Moncongloe (Desantara, 2008) dan artikel “Survival through Slavery” di Inside Indonesia (No. 99, 2010). Ia juga menulis book chapter “South Sulawesi: The Military, Prison Camps and Forced Labour” dalam The Contours of Mass Violence in Indonesia, 1965–68 (University of Hawai‘i Press, 2012).

Sebagai bentuk kepedulian dan empatinya terhadap tanah kelahiran, Taufik juga menerbitkan buku “Awal Kebangkitan & Keruntuhan Pelabuhan Pallime di Bone.”

Dalam karya ini, ia mengupas tuntas tentang sejarah kejayaan Pelabuhan Pallime — bukan sekadar dermaga, melainkan ruang pertemuan budaya, jalur rempah, dan simbol ekonomi rakyat Bone masa lampau. Buku tersebut menjadi bukti bahwa di balik kiprahnya sebagai akademisi nasional dan internasional, Taufik tetap menjadikan Cenrana sebagai sumber inspirasi intelektualnya.

Disertasi dan Kiprah Global

Setelah jeda panjang, Taufik melanjutkan pendidikan doktoralnya di Universitas Indonesia. Meski sempat terganggu sakit yang cukup lama, ia berhasil menuntaskan disertasi berjudul “Toloq dan Kontestasi Otoritas: Perbanditan di Polombangkeng, Sulawesi Selatan, 1905–1950.”

Dari riset ini lahir karya-karya baru yang memperkuat posisinya di dunia akademik internasional, di antaranya:

“Polombangkeng, South Sulawesi: The Contest for Authority, 1945–1949” dalam Revolutionary Worlds (Amsterdam University Press, 2023).

“I Tolok Daeng Magassing: The History and Memory of a Makassar Legend” di Indonesia and the Malay World (2024).

“Oral Traditions and Local Authority: Viewing the Indonesian Revolution through a Cultural Lens” di Asian Studies Review (2025).

Taufik dikenal karena keberaniannya menggali narasi pinggiran dan memberi ruang bagi suara yang lama terhapus dari sejarah resmi.

Aktivisme dan Keteladanan

Sebelum sepenuhnya berkiprah di dunia akademik, Taufik aktif di Lembaga Advokasi dan Pendidikan Anak Rakyat (LAPAR) Sulsel sejak 2007. Ia terlibat dalam riset advokasi, pemberdayaan masyarakat marjinal, dan pendidikan sejarah lokal.

Diskusi bersamanya selalu terasa egaliter — tanpa jarak, penuh semangat belajar lintas generasi. Meski berprestasi dan berjejaring internasional, Taufik tetap rendah hati (tawadhu’), lebih sering menjadi pendengar yang sabar daripada pembicara yang mendominasi.

Tulisan terakhirnya, “G30S dan Pluralitas Ingatan” (Kompas, 30 September 2025), menjadi penegas sikap intelektualnya: sejarah tidak pernah tunggal, dan narasi korban harus diberi ruang agar sejarah menjadi lebih adil dan manusiawi.

Pengabdian di BRIN dan Akhir Perjalanan

Di akhir hayatnya, Dr. Taufik Ahmad mengabdikan diri di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai peneliti bidang sejarah dan kebudayaan. Di lembaga ini, ia terus melanjutkan komitmennya untuk menjembatani riset akademik dengan kepentingan publik, terutama dalam upaya mendokumentasikan memori sosial masyarakat Sulawesi Selatan.

Rekan-rekan sejawat mengenangnya sebagai peneliti tekun, sederhana, dan tak pernah lelah menulis demi memperkaya khazanah pengetahuan bangsa. Bahkan saat kondisi kesehatannya menurun, ia masih sempat menyiapkan naskah tentang sejarah perlawanan rakyat di jazirah Sulawesi bagian selatan — karya yang sayangnya belum sempat ia sempurnakan.

Dr. Taufik Ahmad telah pergi, tetapi jejak cintanya pada ilmu dan tanah kelahiran akan tetap hidup dalam ingatan kami — para sahabat, murid, dan masyarakat Cenrana yang berutang banyak pada ketulusan seorang intelektual yang tak pernah lupa pulang.

Selamat jalan, Kanda Taufik.

Cenrana kehilangan seorang anak terbaiknya, Bone kehilangan seorang peneliti berdedikasi, dan Indonesia kehilangan seorang intelektual yang tak pernah lupa pulang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *