LEPASNEWS.COM BONE – Di balik kabar bahagia kenaikan pangkat Kapolsek Bontocani, Kamaluddin, dari IPTU menjadi AKP, terselip kisah yang tak banyak dimiliki seorang aparat penegak hukum.
Bukan hanya ucapan selamat yang mengalir dari masyarakat, tetapi juga doa dan harapan agar sosok yang akrab disapa Pa Kamal itu tidak segera meninggalkan Bontocani, tanah pengabdian yang telah ia rawat dengan ketulusan.
Kabar kenaikan pangkat tersebut menjadi perbincangan hangat di berbagai desa dan dusun di Kecamatan Bontocani. Media sosial dipenuhi ucapan selamat, rasa bangga, sekaligus ungkapan haru dari warga yang selama ini merasakan langsung kehadiran seorang Kapolsek yang lebih memilih turun ke lapangan daripada sekadar duduk di balik meja.
Bagi masyarakat, Pa Kamal bukan sekadar pemimpin institusi kepolisian. Ia adalah sosok yang tak canggung menyapa warga, hadir dalam setiap persoalan, memberikan edukasi kepada generasi muda, mendukung kegiatan sosial, hingga ikut bergotong royong bersama masyarakat.
Kehadirannya menghadirkan rasa aman sekaligus menumbuhkan kepercayaan bahwa polisi adalah sahabat rakyat.
Tak heran jika kabar kenaikan pangkat itu justru melahirkan kekhawatiran. Warga takut penghargaan tersebut akan diikuti mutasi yang memisahkan mereka dari sosok pemimpin yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bontocani.
“Kami bangga atas kenaikan pangkat beliau. Tetapi kami juga berharap beliau tetap bersama masyarakat Bontocani sosok seperti Pa Kamal tidak mudah digantikan,” ungkap salah seorang warga
Selama mengemban amanah sebagai Kapolsek, AKP Kamaluddin dikenal mengedepankan pendekatan humanis.
Baginya, keamanan bukan hanya tercipta melalui penegakan hukum, tetapi juga lewat sentuhan kemanusiaan, dialog yang terbuka, serta kehadiran nyata di tengah masyarakat.
Filosofi itulah yang membuat hubungan antara kepolisian dan warga semakin erat.Kenaikan pangkat yang diterimanya hari ini menjadi bukti bahwa dedikasi dan kerja tulus tidak pernah sia-sia.
Penghargaan tersebut bukan hanya bentuk apresiasi dari institusi, tetapi juga telah lebih dahulu diberikan oleh masyarakat melalui rasa hormat dan kepercayaan yang tumbuh selama masa pengabdiannya.
Di Bontocani, jejak seorang pemimpin tidak diukur dari panjangnya masa jabatan, melainkan dari banyaknya hati yang disentuh dan kehidupan yang diubah menjadi lebih baik. AKP Kamaluddin telah menorehkan jejak itu.
Karena sejatinya, pangkat hanyalah simbol yang melekat di pundak. Namun ketulusan mengabdi adalah kehormatan yang akan selalu hidup dalam ingatan masyarakat.
Bagi warga Bontocani, nama AKP Kamaluddin akan selalu dikenang sebagai polisi yang tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga merawat harapan, membangun kedekatan, dan menghadirkan rasa damai di tengah kehidupan masyarakat.







