LEPASNEWS.COM MAKASSAR – Di tengah hiruk pikuk Kota Makassar, ketika lampu-lampu jalan masih menyala dan aktivitas warga belum benar-benar usai, seorang kakek tua yang selama ini hidup sebatang kara mengakhiri perjuangannya.
Tanpa keluarga di sisi, tanpa pelukan terakhir, ia ditemukan telah meninggal dunia di sekitar Gedung De Harmonie, Jalan Bonerate, Kelurahan Pattunuang, Kecamatan Wajo, Jumat malam.
Kisah hidupnya menyisakan duka yang mendalam. Bertahun-tahun ia menjalani hari-hari dalam kesendirian. Bagi sebagian orang, ia mungkin hanya sosok renta yang kerap terlihat berjalan tanpa tujuan.
Namun di balik langkah-langkah rapuh itu, tersimpan perjuangan seorang manusia yang bertahan hidup dengan mengandalkan sisa-sisa makanan pemberian orang lain.
Kepala Kelurahan Pattunuang, Arief Rifai, mengatakan warga menemukan kakek tersebut sekitar pukul 21.00 Wita dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
“Informasi menurut warga ditemukan sekitar pukul 21.00 Wita tadi,” ujar Arief.
Menurut Arief, identitas kakek tersebut hingga kini belum diketahui. Selama ini ia sering terlihat berpindah-pindah mencari tempat berteduh di sekitar wilayah Kelurahan Pattunuang.
“Beliau seorang diri dan tidak diketahui identitasnya. Informasi dari warga juga menyebutkan bahwa sehari-harinya beliau diduga mengalami gangguan kejiwaan dan bertahan hidup dari sisa-sisa makanan yang diberikan orang,” jelasnya.
Peristiwa itu mengundang perhatian aparat kepolisian. Personel Polres Pelabuhan Makassar, Polsek Wajo, bersama tim Biddokkes Dokpol Polda Sulsel mendatangi lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Setelah pemeriksaan selesai, jenazah kakek yang diperkirakan berusia sekitar 60 tahun itu dievakuasi ke kamar jenazah Biddokkes Dokpol Polda Sulsel.
Di balik peristiwa memilukan ini, Pemerintah Kelurahan Pattunuang memastikan akan mengambil tanggung jawab agar almarhum mendapatkan pemakaman yang layak karena tidak ada keluarga yang datang atau diketahui.
“Karena tidak ada keluarga, kami dari pemerintah akan mengurus seluruh proses pemakamannya,” tegas Arief.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa masih ada warga yang menjalani hari tua dalam kesendirian dan keterbatasan.
Kisah sang kakek bukan sekadar kabar duka, tetapi juga cerminan pentingnya kepedulian sosial terhadap mereka yang hidup tanpa keluarga, tanpa tempat bergantung, dan membutuhkan perhatian masyarakat maupun pemerintah agar tidak ada lagi yang mengakhiri hidup dalam kesunyian seperti ini.(*)








