Teater Monolog Siswa Disabilitas Menggetarkan Aula Handayani, Hari Ketiga MPLS SLBN 1 Makassar Sarat Pesan Kesetaraan

LEPASNEWS.COM MAKASSAR – Hari ketiga pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SLB Negeri 1 Makassar menghadirkan suasana yang berbeda dan penuh haru. Di Aula Handayani, Selasa pagi, ratusan orang tua, guru, dan siswa larut dalam pertunjukan teater monolog yang dibawakan oleh seorang siswa disabilitas, Abdirrohman Ash Shiddiq atau akrab disapa Noval.

Selama kurang lebih 15 menit, Noval tampil seorang diri di atas panggung membawakan “Monolog Hening”, sebuah pertunjukan tanpa suara yang mengandalkan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan bahasa isyarat. Meski memiliki keterbatasan pendengaran dan bicara, penampilannya justru mampu menyihir penonton hingga berkali-kali memberikan tepuk tangan sebagai bentuk apresiasi.

Pertunjukan tersebut menjadi salah satu agenda utama hari ketiga MPLS sekaligus menandai lahirnya ruang baru bagi pengembangan bakat siswa disabilitas melalui seni pertunjukan.

Belajar Teater Hanya Sepekan, Noval Tampil Memukau Monolog yang dibawakan Noval merupakan hasil pembinaan intensif selama kurang dari satu pekan oleh Kala Teater, komunitas seni pertunjukan di Kota Makassar. Di bawah arahan sutradara Muh. Irsan, S.Hum, Noval berhasil membangun karakter panggung yang kuat hingga mampu memainkan seluruh cerita seorang diri.

Dalam pementasan itu, Noval mengisahkan perjuangan seorang pemuda tuli yang berusaha menjalani kehidupan dengan penuh semangat di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya memahami penyandang disabilitas.

Lewat gerakan yang sederhana namun penuh makna, ia menyampaikan pesan bahwa dunia penyandang disabilitas bukanlah dunia yang sunyi, melainkan dunia yang dipenuhi warna, harapan, dan mimpi yang sama dengan siapa pun.

Pesan Kuat Lawan Diskriminasi dan PerundunganSutradara sekaligus penggagas Program Monolog Hening, Muh. Irsan, mengatakan pertunjukan tersebut tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menjadi media edukasi bagi masyarakat.

Menurutnya, masih banyak anak-anak disabilitas yang menghadapi perlakuan diskriminatif maupun perundungan karena keterbatasan yang mereka miliki.

“Mereka juga adalah anak-anak yang berhak tumbuh, berkembang, diterima di tengah masyarakat, dan memiliki masa depan yang sukses serta berkualitas,” ujarnya.

Ia berharap seni pertunjukan dapat menjadi jembatan untuk membuka cara pandang masyarakat agar lebih menghargai keberagaman dan kesetaraan.

Sekolah Apresiasi Kolaborasi Pengembangan Talenta Plt. Kepala SLBN 1 Makassar, Dr. Muhammad Nur, M.Pd, menyampaikan apresiasi atas hadirnya kelas teater di sekolah yang dipimpinnya.

Menurutnya, pengembangan karakter dan bakat siswa membutuhkan kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Sekolah akan berkembang apabila mampu membangun kolaborasi dengan masyarakat, dunia industri, maupun pemerintah. Kehadiran Kala Teater memberi pengalaman baru bagi siswa sekaligus menjadi inspirasi bagi guru dalam mengembangkan metode pembelajaran,” katanya.

Ia berharap kelas teater dapat menjadi kegiatan ekstrakurikuler yang berkelanjutan sehingga semakin banyak siswa disabilitas memiliki ruang untuk mengembangkan kreativitas dan kepercayaan diri.

Disdik Sulsel Dorong Program Diterapkan di SLB Lain, apresiasi juga datang dari Kepala Bidang PKPLK Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Sary Diana Muallim, S.Sos., M.M.

Ia berharap Program Monolog Hening tidak hanya berhenti di SLBN 1 Makassar, tetapi dapat diterapkan di seluruh Sekolah Luar Biasa di Sulawesi Selatan.

Menurutnya, pembinaan seni seperti teater akan memperkaya keterampilan siswa sehingga mereka memiliki bekal untuk mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari tingkat provinsi hingga nasional.

Resmikan Kelas Pengembangan Diri Momentum pertunjukan monolog juga dirangkaikan dengan peresmian Kelas Program Khusus Pengembangan Diri, ditandai dengan pengguntingan pita oleh Kabid PKPLK Disdik Sulsel, Sary Diana Muallim, didampingi Ketua APTADI Sulsel Dr. Iis Masdiana, M.Pd, Plt. Kepala SLBN 1 Dr. Muhammad Nur, M.Pd, mantan Kepala SLBN 1 Andi Hamjan, S.Pd., M.M., M.Pd, serta Ketua Komite Drs. Sederhana Ali.

Program tersebut menjadi wadah pengembangan berbagai potensi siswa melalui kegiatan marching band, Pramuka, tari, membatik, menjahit, teknik pertukangan, hingga seni teater yang baru diluncurkan. Beberapa bidang bahkan telah mengukir prestasi di tingkat provinsi maupun nasional.

Dialog Publik Tutup Rangkaian Kegiatan, Rangkaian kegiatan ditutup dengan dua sesi dialog publik yang membahas pentingnya kesetaraan hak penyandang disabilitas serta upaya menghapus stigma dan diskriminasi di lingkungan masyarakat.

Melalui Monolog Hening, hari ketiga MPLS SLBN 1 Makassar tidak sekadar menjadi agenda pengenalan sekolah bagi peserta didik baru, tetapi juga menjadi panggung yang membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk berkarya.

Di balik setiap gerakan tanpa suara, Noval menghadirkan pesan yang menggema: setiap anak memiliki hak yang sama untuk bermimpi, berkarya, dan dihargai.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *