Menterjemahkan Tuhan dalam Perspektif Pangadereng: Kearifan budaya Bugis sebagai Jalan Harmoni

Oleh : Dr.H.Andi Singkeru Rukka

Tenaga Ahli Kebudayaan Kab Bone

LEPASNEWS.COM.BONE– di tengah diskursus tentang hubungan budaya, agama dan negara, masyarakat Bugis memiliki sistem nilai kuno yang menawarkan jawaban unik yaitu Pangadereng hingga melekatkan ketiganya dalam tatanan yg harmoni menjadi ade dengan asas mappasilassa yang setiap unsur saling menyesuaikan

Pangadereng bukan nostalgia serta cerita pengantar tidur atau ornamen pelengkap dinas kebudayaan saja apalagi sekadar hiburan tapi jantung yang berdenyut.

Pangadereng adalah sistem nilai dalam masyarakat Bugis. Nilai utamanya bertumpu pada *Ade’* dan mengandung tiga khal: *Wari, Rapang, dan Bicara serta Sara’. Sistem ini berkembang kuat setelah masuknya agama Islam ke tanah Bugis, dan hingga kini masih menjadi kompas moral masyarakat.

Mengolah Hati Hingga ke Bannapati

Menurut para tetua, inti Pangadereng bukan sekadar aturan sosial, Ia adalah kemampuan manusia mengolah kecerdasan hati hingga menyentuh aspek terdalam dari diri yaitu jiwa atau Bannapati.

Ini bukan ritual luar, tapi kerja batin. Bagaimana hati kita menjadi stabil,

Filosofi “Kessi Alusu” arti Bone,

Etimologi Bone sendiri dimaknai sebagai “Kessi Alusu” ibarat buih di ujung hempasan ombak yang membentuk gundukan pasir halus sangat halus.

Frasa Bugisnya:

Ma KESSI ng ampena : baik perilakunya

Na ALUSU warekkadanna : halus tutur katanya

Maknanya menjadi standar teknis Pangadereng: kemampuan mengolah hati yang *konstan, stabil, atau dalam bahasa modern disebut “zero”.

*3 Pilar Pappaseng: Cara Menterjemahkan Tuhan*

Pangadereng ditopang oleh *Pappaseng* dengan tiga nilai utama sebagai cara manusia memahami dan “menerjemahkan Tuhan” dalam kehidupan sosial:

1. *Sipakatau*: Saling memanusiakan. Berangkat dari keyakinan bahwa semua manusia berasal dari satu satuan yang sama, _”Seddi Tau”_.

2. *Sipakalebbi*: Menghormati entitas di luar manusia. Sebuah tata etika terhadap alam, semesta, dan seluruh isi dunia atau kosmologi, hingga kita mengenal pemmali

3. *Sipakainge*: Saling mengingatkan melalui _Sadda, Ada, dan Gau*. Ini adalah amanah dan wasiat yang diwariskan agar manusia tidak melenceng atau mappasengnrupae

Di era modern, nilai Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge diyakini masih relevan sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang toleran, beretika, dan stabil secara batin.

Massimanna

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *