LEPASNEWS.COM, BONE – Perkara dugaan penipuan dalam bisnis telur di Kabupaten Bone kembali memasuki babak yang menarik perhatian. Di tengah laporan pengusaha telur yang mengaku mengalami kerugian karena pembayaran belum diselesaikan, muncul keterangan dari seorang pengepul yang justru mengaku telah membeli ratusan rak telur dari kelompok yang disebut berkaitan dengan perempuan berinisial R, dengan seluruh transaksi disebut telah dibayar lunas.Rabu (12/08/2026)
Keterangan tersebut disampaikan seorang pengepul sekaligus pedagang telur kepada redaksi LepasNews.com melalui komunikasi WhatsApp. Ia mengaku pernah bertransaksi langsung dengan salah satu sopir yang disebut terkait dengan kelompok R.
Menurut pengakuannya, transaksi berlangsung selama Juli 2026 dengan total pembelian mencapai 600 rak telur.
“Dalam bulan Juli 2026 inisial IM membeli telur sebanyak 600 rak. Awal bulan 200 rak dan akhir bulan 400 rak. Setiap transaksi kami langsung membayar,” ungkapnya kepada redaksi LepasNews.com.
Keterangan itu menjadi bagian penting dalam perkembangan perkara karena memberikan gambaran lain mengenai aktivitas perdagangan telur yang melibatkan kelompok R.
Tawaran Harga Terjangkau Jadi Pintu Masuk Transaksi
Pengepul tersebut menjelaskan, komunikasi awal dilakukan dengan salah satu sopir yang disebut berkaitan dengan kelompok R. Dari komunikasi itu, ia mendapatkan informasi mengenai adanya telur dalam jumlah besar dengan harga yang dinilai cukup terjangkau. Kesempatan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan perdagangan telur.
Pada awal Juli 2026, ia membeli sekitar 200 rak telur. Transaksi kembali dilakukan pada penghujung bulan dengan jumlah sekitar 400 rak.Jika kedua transaksi tersebut dijumlahkan, total telur yang dibeli mencapai sekitar 600 rak.
Yang menjadi perhatian, menurut keterangannya, seluruh transaksi tersebut langsung dibayar.Keterangan itu tentu menjadi kontras dengan pengakuan sejumlah pengusaha telur lain yang kini mempersoalkan pembayaran atas telur yang telah mereka serahkan.
Namun, keterangan tersebut tetap merupakan pengakuan dari salah satu pihak yang perlu diverifikasi lebih lanjut melalui bukti transaksi, komunikasi, dokumen pengiriman maupun keterangan saksi.
Dari Peternak ke Pengepul, Ke Mana Telur Mengalir?
Di balik transaksi ratusan rak telur tersebut, muncul pertanyaan yang lebih besar: dari mana telur diperoleh dan ke mana seluruh telur tersebut didistribusikan?
Pertanyaan ini menjadi semakin penting setelah perempuan berinisial R sebelumnya dilaporkan ke Polres Bone terkait dugaan penipuan dan/atau penggelapan dalam bisnis telur.
Dalam informasi yang berkembang, R disebut menawarkan kerja sama pembelian telur kepada sejumlah pengusaha yang memiliki kandang ayam petelur.
Para pihak yang mengaku mengalami kerugian menyebut bahwa mereka mendapatkan penjelasan mengenai adanya kerja sama dengan sebuah perusahaan di wilayah Sulawesi Tenggara.
Informasi tersebut disebut menjadi salah satu alasan sejumlah pengusaha bersedia menyerahkan telur dalam jumlah besar.
Namun, di sisi lain, muncul keterangan dari pengepul yang mengaku justru memperoleh pasokan telur dari kelompok R dan melakukan pembayaran secara langsung.
Rangkaian informasi tersebut membuat alur bisnis telur ini menjadi semakin kompleks dan membutuhkan penelusuran secara menyeluruh.
Laporan Polisi Sudah Masuk
Perkara ini sebelumnya telah dilaporkan ke Polres Bone melalui Laporan Polisi Nomor LP/498/VIII/2026/SPKT/RES BONE, tertanggal 7 Agustus 2026.
Dalam laporan tersebut, Muhammad Asyraf Rahmat (29) melaporkan perempuan berinisial R (72) terkait dugaan penipuan dan/atau penggelapan.
Asyraf sebelumnya mengaku mengalami kerugian sekitar Rp13,2 juta setelah sekitar 400 rak telur diambil, sementara pembayaran disebut hanya dilakukan sebagian.
Laporan tersebut kemudian menjadi pintu masuk aparat untuk menelusuri lebih jauh dugaan persoalan dalam transaksi bisnis telur tersebut.
600 Rak Telur Jadi Keterangan Penting
Pengakuan pengepul yang menyebut membeli 600 rak telur dari kelompok R dan melakukan pembayaran penuh kini menjadi salah satu informasi yang menarik untuk diuji.
Sebab, apabila keterangan tersebut benar, penyidik dapat memperoleh gambaran lebih jelas mengenai bagaimana telur yang berasal dari pemasok atau peternak kemudian berpindah kepada pengepul atau pedagang lain.
Sejumlah pertanyaan penting pun muncul.
Siapa yang mengambil telur dari peternak? Siapa yang mengantarkan? Kepada siapa telur kemudian dijual? Berapa harga pembeliannya? Berapa harga penjualannya? Dan bagaimana aliran pembayaran dari setiap transaksi?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat membantu mengurai apakah transaksi-transaksi yang kini dipersoalkan memiliki hubungan satu sama lain atau merupakan transaksi bisnis yang berdiri sendiri.
Polisi Perlu Telusuri Aliran Barang dan Uang
Dalam perkara seperti ini, bukti transaksi menjadi sangat penting.Bukan hanya keterangan antara pemasok dan pembeli, tetapi juga bukti transfer, kuitansi, percakapan WhatsApp, catatan pengiriman, jumlah rak telur, identitas sopir, hingga pihak yang menerima telur.
Termasuk pula memastikan kebenaran informasi mengenai dugaan kerja sama dengan perusahaan di Sulawesi Tenggara.
Jika telur memang diserahkan kepada pihak tertentu untuk memenuhi kebutuhan perusahaan di luar daerah, maka jalur distribusinya perlu ditelusuri secara terang.
Sebaliknya, jika telur tersebut ternyata berputar melalui sejumlah pedagang dan pengepul, maka rangkaian transaksi tersebut juga penting untuk dipetakan.
Kesaksian Berbeda, Perkara Makin Menarik
Perkara ini kini menghadirkan dua gambaran yang berbeda.Di satu sisi, terdapat pengusaha telur yang mengaku telah menyerahkan telur namun pembayaran tidak diselesaikan sesuai kesepakatan.
Di sisi lain, muncul pengepul yang mengaku membeli ratusan rak telur dari kelompok R dan menyatakan seluruh pembayaran dilakukan langsung.
Perbedaan keterangan tersebut belum dapat dijadikan kesimpulan mengenai ada atau tidaknya tindak pidana.
Justru di titik inilah proses penyelidikan dan penyidikan menjadi penting untuk menemukan fakta berdasarkan alat bukti dan keterangan para pihak.
Kuasa Hukum R Bantah Ada Puluhan Korban
Sebelumnya, pihak R melalui kuasa hukumnya juga membantah narasi mengenai adanya puluhan korban.
Pihak R menyebut persoalan tersebut merupakan hubungan transaksi bisnis.
Keterlambatan pembayaran, menurut pihaknya, tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai penipuan karena harus dilihat secara utuh dari awal terjadinya transaksi, kesepakatan para pihak hingga proses pembayaran.
Perbedaan pandangan antara pihak yang merasa dirugikan dan pihak R inilah yang kini menunggu pembuktian melalui proses hukum.
Menunggu Fakta di Balik 600 Rak Telur
Keterangan pengepul mengenai pembelian 600 rak telur dan pembayaran yang disebut lunas menjadi informasi terbaru yang semakin memperlebar ruang penelusuran perkara bisnis telur di Bone.
Publik kini menunggu bagaimana penyidik Polres Bone mengurai setiap transaksi dan memastikan hubungan antara peternak, pemasok, sopir, pengepul hingga pembeli akhir.
Apakah seluruh transaksi tersebut merupakan bagian dari satu jaringan perdagangan yang sama, atau justru merupakan transaksi terpisah?
Jawabannya akan sangat bergantung pada bukti dan hasil pemeriksaan aparat penegak hukum.
Hingga proses hukum berjalan, seluruh pihak yang disebut dalam perkara ini tetap memiliki hak untuk memberikan keterangan dan klarifikasi.
Dugaan penipuan juga tetap merupakan dugaan sampai terbukti secara hukum berdasarkan proses peradilan yang berlaku.
LepasNews.com membuka ruang hak jawab dan klarifikasi kepada perempuan berinisial R, kuasa hukumnya, para pengusaha telur, pengepul, maupun pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini.(*)








