LEPASNEWS.COM.BONE– Perang melawan narkoba bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Perlawanan juga harus tumbuh dari lingkungan pendidikan, keluarga, pesantren, hingga masyarakat.
Kesadaran itulah yang dibangun Forbes Anti Narkoba melalui kegiatan konsolidasi dan edukasi bahaya narkoba bersama anak-anak penghafal Al-Qur’an di Darul Arqam Bone, lembaga LTTQ Raudhatul Qur’an, Ahad (1/11/2026).
Dalam kegiatan tersebut, Forbes Anti Narkoba menyampaikan edukasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba, dampaknya terhadap kehidupan manusia, serta langkah-langkah nyata untuk melawan ancaman peredaran barang terlarang tersebut.
Tiga pengurus Forbes Anti Narkoba hadir sebagai pembicara, yakni Dr. H. Andi Singkeru Rukka selaku Ketua Umum Forbes, Anto Syambaniadam selaku Ketua I, dan Akmal Kimal selaku Ketua III.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menanamkan kesadaran antinarkoba sejak usia dini, khususnya kepada generasi santri yang kelak diharapkan menjadi penjaga nilai-nilai agama, moral, dan keselamatan lingkungan sosial.
Dalam pemaparan materi, Forbes menekankan bahwa santri tidak cukup hanya dipersiapkan menjadi generasi penghafal dan pengamal Al-Qur’an. Mereka juga perlu dibekali keberanian, kepedulian, serta pengetahuan untuk menghadapi ancaman narkoba yang dapat merusak masa depan generasi bangsa.
Tujuh Pilar Perlawanan Santri terhadap Narkoba
Dalam konsolidasi tersebut, Forbes Anti Narkoba menggarisbawahi tujuh pilar perlawanan yang perlu ditanamkan kepada santri sejak dini.
Pertama, membangun kesadaran sejak dini. Santri perlu mengenali bahaya narkoba serta memahami dampaknya terhadap kesehatan, masa depan, keluarga, dan kehidupan sosial.
Kedua, memperkuat iman dan akhlak. Nilai-nilai agama harus menjadi benteng diri agar tidak mudah terpengaruh bujukan, ajakan, maupun lingkungan yang menyesatkan.
Ketiga, berani menolak narkoba. Setiap santri harus memiliki keteguhan untuk mengatakan tidak terhadap segala bentuk penyalahgunaan narkotika.
Keempat, menjadi agen pencegahan. Santri diharapkan mampu menyebarkan pesan antinarkoba kepada teman sebaya, keluarga, dan masyarakat melalui dakwah, diskusi, serta kegiatan sosial.
Kelima, melawan peredaran, bukan menghakimi. Kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan dengan melaporkan dugaan peredaran narkoba melalui jalur resmi, bukan melakukan tindakan main hakim sendiri.
Keenam, membangun kepedulian sosial. Santri diajak tidak membiarkan teman atau sesama generasi muda terjerumus. Mereka yang mengalami ketergantungan harus didorong memperoleh pertolongan dan layanan rehabilitasi.
Ketujuh, menjadi pelopor kampung bersih narkoba. Santri diharapkan mengambil bagian dalam gerakan menjaga pesantren, sekolah, desa, dan lingkungan masyarakat agar terbebas dari ancaman narkoba.
Santri Bukan Sekadar Penghafal, tetapi Penjaga Masa Depan
Pesan penting yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah bahwa perjuangan melawan narkoba harus dimulai sebelum generasi muda mengenal dan terjerumus ke dalam penyalahgunaan narkotika.
Pesantren dan lembaga pendidikan keagamaan memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter generasi yang beriman, berakhlak, berani mengambil sikap, serta memiliki tanggung jawab sosial.
Al-Qur’an tidak hanya menjadi hafalan yang tersimpan dalam ingatan, tetapi juga harus menjadi pedoman dalam membangun kehidupan yang baik dan menjauhi segala bentuk kerusakan.
Melalui konsolidasi bersama Darul Arqam Bone dan LTTQ Raudhatul Qur’an, Forbes Anti Narkoba berharap lahir generasi santri yang tidak hanya menjaga dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi bagian dari gerakan penyelamatan masyarakat.
Sebab, melawan narkoba bukan pekerjaan sehari atau tanggung jawab satu kelompok. Ini adalah perjuangan panjang yang membutuhkan pendidikan, keteladanan, keberanian, dan kebersamaan.
Pesan perjuangannya jelas: Santri harus berani melawan narkoba sejak dini. Jaga iman, jaga keluarga, jaga pesantren, dan jaga kampung dari ancaman narkoba.
Generasi penghafal Al-Qur’an harus menjadi generasi penjaga masa depan, bukan membiarkan masa depan direnggut oleh narkoba.







