LEPASNEWS.COM BONE — Denting kartu domino yang beradu dengan meja, sorak kecil dari para penonton, hingga ketegangan yang menggantung di setiap putaran, mewarnai Turnamen Domino Jurnalis Kunderuz Bone yang digelar pada Ahad, 6 September 2026, di Warkop Syir, Jalan Mesjid, Kabupaten Bone.
Bukan sekadar permainan, turnamen ini menjelma menjadi panggung kecil tempat strategi, keberanian, ketenangan, dan persahabatan bertemu dalam satu arena.
Sebanyak 32 slot dipertandingkan dengan total hadiah mencapai Rp3,2 juta.
Sejak babak awal, suasana kompetisi terasa begitu hidup. Para peserta datang membawa ambisi untuk menjadi yang terbaik, namun tetap dalam balutan kebersamaan dan sportivitas.
Di atas meja, setiap pasangan domino menjadi penentu. Satu langkah bisa membuka jalan menuju kemenangan, sementara satu kesalahan kecil mampu mengubur harapan yang telah dibangun sejak awal pertandingan.
Pertandingan pun berlangsung sengit. Ada yang tersenyum ketika kartu berpihak, ada pula yang harus menelan kecewa saat langkah terakhir tak sesuai harapan.
Namun justru di situlah keindahan turnamen ini menang dan kalah hanyalah bagian dari permainan, sementara persaudaraan menjadi hadiah yang jauh lebih panjang umurnya.
Setelah melewati rangkaian pertandingan yang penuh ketegangan, Gardu Syir akhirnya tampil sebagai kampiun. Permainan mereka mampu mengantarkan tim tersebut meraih Juara I sekaligus membawa pulang hadiah sebesar Rp1,5 juta.
Posisi Juara II diraih oleh Gardu Kopdar, yang tampil konsisten hingga babak akhir dan berhak atas hadiah Rp1 juta.
Sementara itu, Gardu Kubus harus puas di posisi Juara III dengan hadiah Rp500 ribu.
Adapun Juara IV kembali menjadi milik Gardu Syir, dengan hadiah sebesar Rp200 ribu.
Deretan pemenang tersebut menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan turnamen. Namun bagi penyelenggara, angka hadiah bukanlah satu-satunya ukuran keberhasilan.
Ketua Jurnalis Kunderuz Bone, Anto Syambaniadam, mengatakan turnamen domino tersebut merupakan salah satu wadah untuk mempererat tali silaturahmi.
Menurutnya, kesibukan para jurnalis yang sehari-hari bergelut dengan berita, liputan dan berbagai aktivitas membuat ruang pertemuan santai seperti ini menjadi penting.
“Ini adalah ajang silaturahmi, tempat kita saling bertemu dalam turnamen ini,” ujar Anto Syambaniadam.
Baginya, meja domino bukan sekadar tempat mengadu strategi. Di sana, para peserta dapat duduk bersama tanpa sekat, berbincang, tertawa, dan menikmati suasana persaudaraan.
Turnamen ini dipimpin oleh Ketua Panitia Andi, yang juga merupakan Pimpinan Redaksi Listing Nusantara. Dengan dukungan panitia dan peserta, kegiatan berlangsung dalam suasana kompetitif namun tetap mengedepankan kebersamaan.
Ada sesuatu yang istimewa dari pertandingan seperti ini. Ketika kartu terakhir dibuka, sorak kemenangan mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun jabat tangan setelah pertandingan, tawa di sela-sela permainan, serta pertemuan antarsesama jurnalis dan komunitas justru menjadi kenangan yang dapat bertahan lebih lama.
Domino mengajarkan bahwa kemenangan tidak selalu lahir dari keberuntungan. Ada strategi, kesabaran, membaca situasi, dan keberanian mengambil keputusan. Persis seperti perjalanan hidup kadang kartu yang datang tidak sesuai keinginan, tetapi bagaimana seseorang memainkan kartu itulah yang menentukan akhir cerita.
Dan di Warkop Syir, Ahad itu, cerita tersebut ditulis dengan cara yang sederhana: 32 slot, Rp3,2 juta total hadiah, satu meja pertandingan, dan puluhan orang yang dipertemukan oleh semangat olahraga serta persaudaraan.
Pada akhirnya, Gardu Syir boleh membawa pulang piagam kemenangan. Kopdar, Gardu Kubus, dan Gardu Syir di posisi berikutnya boleh mencatat nama mereka sebagai para pemenang.
Tetapi lebih dari itu, turnamen ini meninggalkan pesan bahwa persahabatan adalah pertandingan yang tak mengenal kalah dan menang.
Sebab ketika kartu terakhir telah diletakkan dan pertandingan berakhir, semua kembali duduk dalam satu lingkaran yang sama sebagai sahabat, sebagai rekan, dan sebagai bagian dari keluarga besar Jurnalis Kunderuz Bone.Gardu Syir menjadi juara di atas meja. Namun silaturahmi menjadi juara di hati.(*)







