MALORO LOPI, KETIKA DOA DAN SEMANGAT PESISIR MENGIRINGI PERAHU MENUJU LAUT

Berita, Budaya, Daerah16 Dilihat

LEPASNEWS.COM.BONE  – Di antara doa yang dilantunkan, irama seni yang mengalun, dan tangan-tangan yang saling menguatkan, sebuah perahu didorong menuju laut. Bukan sekadar perjalanan mengarungi samudra, tetapi sebuah gambaran tentang harapan, keberanian, dan perjuangan masyarakat pesisir dalam menyambung kehidupan.

Itulah Maloro Lopi (Mendorong Perahu), sebuah persembahan budaya bertajuk “Layar Budaya, Semangat Pesisir” yang mengangkat tradisi masyarakat pesisir dalam mengantarkan perahu menuju laut, sekaligus merefleksikan semangat kebersamaan dan ketahanan pangan masyarakat di Kecamatan Tanete Riattang Timur, Kabupaten Bone.

Maloro Lopi menggambarkan sebuah perjalanan yang sarat makna. Di balik perahu yang bergerak menuju laut, tersimpan doa keselamatan, harapan akan rezeki, serta semangat para nelayan yang menggantungkan kehidupan pada kekayaan laut.

Doa dan Tradisi Mengiringi Perjalanan

Prosesi Maloro Lopi diawali dengan kehadiran Punggawa Lopi sebagai pemilik perahu, Juragan Lopi sebagai pemimpin pelayaran, serta Sandro Lopi atau pemimpin ritual tradisional yang memanjatkan doa keselamatan dan keberkahan.

Lantunan Barasanji yang dibawakan Pabbarasanji mengiringi jalannya prosesi, menghadirkan suasana khidmat yang menyatukan nilai spiritual dan warisan budaya masyarakat pesisir.

Sementara itu, Paddoko membawa beragam bekal dan persembahan ritual yang memiliki makna tersendiri dalam tradisi tersebut.

Berbagai sajian disiapkan, mulai dari onde-onde, sokko lotong, sokko putih, bella lawo, pisang goreng, pisang tandang, pisang nisi, pisang manurung, ayam likku, kelapa muda, hingga telur masak.

Setiap hidangan menjadi simbol bekal, rasa syukur, doa, dan harapan yang mengiringi perjalanan perahu menuju laut lepas.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat pesisir merawat hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.

Gotong Royong Mengantarkan Harapan

Setelah seluruh rangkaian persiapan selesai, Paloro Lopi atau para pendorong perahu bersama awak kapal mulai menggerakkan perahu menuju laut.

Dalam gerak yang serempak, tangan-tangan saling menopang, menggambarkan semangat gotong royong yang menjadi kekuatan masyarakat pesisir.

Perahu yang perlahan bergerak menjadi lambang perjuangan para nelayan dalam mencari rezeki demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Lebih dari itu, prosesi ini merepresentasikan peran penting nelayan dalam menjaga ketersediaan hasil laut sebagai sumber pangan bagi masyarakat Tanete Riattang Timur.

Di balik ombak yang tak selalu bersahabat, tersimpan harapan agar laut tetap memberikan kehidupan dan menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi mendatang.

Kegiatan ini turut dihadiri Camat Tanete Riattang Timur, Andi Habibie, S.T., M.Si., sebagai bentuk dukungan pemerintah kecamatan terhadap pelestarian tradisi masyarakat pesisir.

Kehadiran pemerintah juga mencerminkan perhatian terhadap pentingnya ketahanan pangan dan upaya menjaga ketersediaan hasil laut bagi masyarakat.

Dalam persembahan tersebut, hadir pula Putri Laut Tangkulara yang menjadi simbol keindahan, kekuatan, dan kekayaan laut.

Gerak tarian kolosal kemudian menggambarkan gelombang laut, semangat melaut, serta harapan yang terus tumbuh di tengah kehidupan masyarakat pesisir.

Perpaduan gerak, irama, dan simbol budaya menghadirkan gambaran kehidupan nelayan yang tidak hanya berjuang menghadapi luasnya lautan, tetapi juga menjaga warisan budaya dan nilai kebersamaan.

Persembahan Maloro Lopi merupakan hasil kolaborasi Pemerintah Kecamatan Tanete Riattang Timur dan Sanggar Seni Budaya Yayasan Andi Sudirman, yang menyatukan tradisi, seni, dan kehidupan masyarakat pesisir dalam satu rangkaian pertunjukan budaya.

Maloro Lopi bukan sekadar prosesi mendorong perahu menuju laut. Di dalamnya tersimpan kisah tentang doa yang dipanjatkan, kebersamaan yang dijaga, dan perjuangan masyarakat pesisir dalam merawat kehidupan.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa laut bukan hanya hamparan air yang membentang luas, melainkan sumber penghidupan yang harus dijaga bersama.

Melalui persembahan “Layar Budaya, Semangat Pesisir”, nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, dan kecintaan terhadap warisan leluhur kembali dihidupkan dalam gerak seni yang penuh makna.

Ketika perahu didorong menuju laut, harapan masyarakat pesisir ikut berlayar, membawa doa untuk keselamatan, rezeki yang berkah, serta kehidupan yang lebih sejahtera.(*)

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *