Memaknai Maulid Nabi Besar Muhammad SAW

Berita, Daerah, Opini38 Dilihat

Oleh : Hamba Allah

Dari : Ummat Muhammad SAW

LEPASNEWS.COM BONE –Cahaya yang Tak Pernah PadamAda nama yang ketika disebut, hati menjadi teduh.

Ada sosok yang ketika kisahnya dikenang, air mata jatuh tanpa dipaksa.

Ada manusia yang telah lama meninggalkan dunia, tetapi ajarannya tetap hidup di dalam hati jutaan manusia.

Dialah Muhammad bin Abdullah SAW, kekasih Allah dan utusan-Nya.

Maulid Nabi bukan sekadar tentang mengingat sebuah tanggal. Bukan pula hanya tentang berkumpul, membaca shalawat, menikmati hidangan, atau mendengarkan kisah perjalanan Rasulullah SAW.

Maulid adalah tentang menghidupkan kembali cinta kepada Rasulullah SAW.

Tentang mengingat seorang manusia yang lahir di tengah masyarakat yang diselimuti kejahilan, kemudian membawa cahaya tauhid.

Tentang seorang yatim yang tumbuh tanpa kemewahan dunia, tetapi kelak menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”

(QS. Al-Anbiya: 107)

Muhammad SAW lahir di Makkah dari keluarga Bani Hasyim. Beliau lahir sebagai seorang yatim. Ayahnya, Abdullah, telah wafat sebelum beliau dilahirkan.

Sejak kecil, kehidupan Rasulullah SAW telah mengajarkan sebuah pesan yang dalam: kemuliaan seseorang tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tingginya kedudukan, ataupun kemewahan dunia.

Namun, dari kesederhanaan itu lahir seorang manusia yang dikenal karena kejujurannya.

Masyarakat Makkah memanggilnya Al-Amin orang yang terpercaya.

Sebelum menjadi Rasul, beliau telah menunjukkan akhlak yang membuat orang lain percaya kepadanya.

Kemudian, ketika usia beliau mencapai 40 tahun, datanglah sebuah peristiwa yang mengubah sejarah manusia.

Di Gua Hira, Malaikat Jibril datang membawa wahyu dari Allah SWT.

Iqra’ bacalah.Dari sebuah gua yang sunyi, cahaya Islam mulai menerangi dunia.

Dari seorang manusia yang sederhana, Allah SWT mengangkat seorang Rasul yang membawa risalah hingga ke seluruh penjuru bumi.

Perjalanan Rasulullah SAW bukanlah jalan yang dihiasi bunga tanpa duri.

Beliau dihina.

Beliau ditolak.

Beliau disakiti.

Beliau dan para sahabatnya menghadapi tekanan yang begitu berat.

Namun, Rasulullah SAW tidak membalas keburukan dengan keburukan.

Ketika disakiti, beliau memilih kesabaran.

Ketika dihina, beliau tetap menjaga akhlak.

Ketika memiliki kesempatan membalas, beliau justru menunjukkan keluasan hati.

Di situlah kita belajar bahwa kekuatan seorang mukmin bukan hanya ketika ia mampu melawan, tetapi juga ketika ia mampu menahan amarah dan memilih memaafkan.

Maulid dan Cinta kepada Rasulullah

Peringatan Maulid berkembang dalam sejarah Islam beberapa abad setelah masa Rasulullah SAW. Karena itu, para ulama memiliki perbedaan pandangan mengenai bentuk dan hukumnya.

Namun, di banyak masyarakat Muslim, Maulid menjadi momentum untuk memperbanyak shalawat, membaca sejarah kehidupan Rasulullah SAW, bersedekah, berbagi makanan, serta mengingat kembali akhlak dan perjuangan beliau.

Yang terpenting adalah jangan sampai Maulid hanya menjadi perayaan yang ramai di luar, tetapi sepi di dalam hati.

Jangan sampai kita pandai menyebut nama Rasulullah SAW, tetapi lupa mengikuti akhlaknya.

Jangan sampai lisan kita bershalawat, tetapi tangan kita masih menyakiti sesama.

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, tetapi kejujuran, amanah, kasih sayang, dan kesederhanaan beliau justru semakin jauh dari kehidupan kita.

Sebab cinta kepada Rasulullah bukan hanya kata-kata.

Cinta adalah mengikuti.

Cinta adalah meneladani.

Cinta adalah berusaha menjadi lebih baik.

Jika Rasulullah Hadir di Tengah Kita Barangkali, jika Rasulullah SAW hadir di tengah kehidupan kita hari ini, beliau tidak akan bertanya berapa megah acara Maulid yang kita selenggarakan.

Beliau mungkin akan melihat bagaimana kita memperlakukan orang tua.Bagaimana kita berbicara kepada tetangga.Bagaimana kita memperlakukan orang miskin.

Bagaimana kita bersikap kepada orang yang berbeda pendapat.Bagaimana kita menjaga amanah.

Bagaimana kita berkata jujur ketika kebohongan mungkin lebih menguntungkan.

Sebab risalah yang beliau bawa bukan hanya untuk dibaca, tetapi untuk dihidupkan.

Maulid Nabi adalah kesempatan untuk kembali menyalakan cahaya itu.

Cahaya kejujuran di tengah banyaknya kebohongan.

Cahaya kasih sayang di tengah kerasnya kehidupan.Cahaya persaudaraan di tengah perpecahan.Cahaya kesabaran di tengah ujian.

Dan cahaya iman di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar gemerlapnya kehidupan.Rasulullah SAW telah pergi meninggalkan dunia.

Tetapi sunnahnya masih hidup.

Shalawat masih dilantunkan.

Sirahnya masih diceritakan.

Akhlaknya masih menjadi teladan.

Dan namanya masih disebut dengan penuh cinta oleh umatnya di berbagai penjuru dunia.

Muhammad SAW telah lama meninggalkan kita, tetapi cintanya tidak pernah meninggalkan umatnya.

Maka pada setiap Maulid, marilah kita bukan hanya bertanya:

“Kapan Nabi Muhammad SAW lahir?”

Tetapi tanyakan kepada hati kita:

“Seberapa jauh akhlak Rasulullah SAW telah lahir kembali dalam diri kita?”

Jika hari ini kita lebih jujur,

jika hari ini kita lebih sabar,

jika hari ini kita lebih peduli,

jika hari ini kita lebih mudah memaafkan,

jika hari ini kita semakin mencintai sesama karena Allah

maka mungkin, di situlah makna Maulid mulai menemukan tempatnya.

Karena sesungguhnya, Maulid bukan hanya tentang mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Maulid adalah tentang bagaimana cahaya Muhammad SAW terus hidup dalam akhlak umatnya.

Shalawat dan Salam

Allahumma shalli ‘ala Sayyidina Muhammad, wa ‘ala ali Sayyidina Muhammad.

Ya Allah, tanamkanlah dalam hati kami kecintaan kepada Nabi-Mu.Jadikanlah kami umat yang tidak hanya mengenal namanya, tetapi juga mengikuti jalannya.

Jadikanlah shalawat yang keluar dari lisan kami sebagai pengingat untukmemperbaiki diri.

Dan kelak, pertemukanlah kami dengan Rasulullah SAW di telaga Al-Kautsar, dalam keadaan membawa iman dan cinta yang tulus kepada beliau.

Selamat memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW.Semoga cahaya kelahirannya menerangi hati,shalawatnya menenangkan jiwa,sunnahnya menjadi jalan kehidupan,dan cintanya membawa kitamenuju ridha Allah SWT.

Muhammad SAW namamu disebut dengan lisan,namun cintamu semoga hidup selamanya di dalam hati.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *