Proyek 2 Miliar Surianto Angkat Bicara, Saya Bukan Sub Kontraktor Dalam Pengerjaan Irigasi Desa Turuccinae di Bone 

Berita, Daerah, Peristiwa583 Dilihat

LEPASNEWS.COM BONE – Polemik  pengerjaan Proyek Irigasi di desa Turucinnae Kabupaten Bone Sulawesi Selatan  menuai Soal, di duga ada utang pekerjaan kurang lebih 85 juta rupiah yang belum dilunasi.

Melalui pesan WAg Surianto menghubungi Redaksi LepasNews.com menjelaskan bahwa dalam pekerjaan irigasi tersebut Idhar meminta tolong dibantu untuk menyelesaikan proyek itu tahun 2021 silam.

” Saya ini bukan sub-kontraktor hanya diminta membantu ibu idar pada waktu itu, karena tidak mampu menyelesaikan pekerjaan proyeknya tukangnya lari semua” jelas Surianto

Lanjut Surianto  “sehingga melalui Pak Desa Turu cinnae untuk membantu ibu idar, Soal material itu dari pak desa mulai pasir semen dan batu, saya hanya ngambil upah kerja saja” jelasnya

Olehnya itu yang tercatat  di saya masih ada 85 juta rupiah yang  belum dilunasi ibu idar, dan sudah mengakui waktu diperiksa sama kejaksaan kala itu.

“saya hanya di janji terus sampai sekarang belum dilunasi, dan kondisi saat ini saya sedang sakit, jadi saya minta tolong sama pak Rusdi ketua LSM Lamellong untuk membantu masalah ini, saya sudah beri surat kuasa  untuk membantuku  karena saya lagi sakit dan butuh biaya” jelas  Surianto

Diberitakan sebelumnya Utang Idhar kepada Surianto disebut mencapai Rp 85 juta dan hingga saat ini belum dibayarkan.

Namun hal itu dibantah Idhar saat gelaran jumpa pers di salah satu warkop di Kota Watampone, Kabupaten Bone pada Sabtu (29/3/2025).

“Sebelumnya perlu saya jelaskan bahwa pak Surianto adalah Subkontraktor kami, bukan tukang. Jadi kami sama-sama kontraktor dan bekerja sama menyelesaikan proyek itu dengan membagi hasil sesuai kesepakatan,” jelas Idhar di hadapan awak media.

Idar memaparkan, anggaran proyek tersebut sekira Rp 2 miliar.

“Saat saya mengunjungi lokasi, ternyata medannya sangat sulit, karena ada gunung yang harus dibelah dan juga bebatuan, jadi saya harus menggunakan tiga alat berat yakni, 2 ekscavator dan 1 breaker. Itu memakan dana lebih,” papar Idhar.

Setelah dikalkulasi anggaran pengerjaan proyek tersebut, Idhar mengaku merugi tapi tetap akan bertanggungjawab atas kepercayaan yang diberikan Pemerintah Daerah (Pemda) Bone.

“Sendainya saya bukan orang bertanggung jawab, saya sudah tinggalkan itu proyek sejak awal. Tapi terlanjur kami kerjakan, terkait untung rugi, nanti urusan belakang,” katanya.

Lanjut Idhar menjelaskan, saat proyek tersebut dikerjakan, datanglah Surianto menawarkan kerjasama untuk mengerjakan proyek tersebut.

“Kami terima dengan kesepakatan-kesepakatan yang telah kami buat. Jadi saya kasi bagian yang dia kerjakan sesuai kesepakatan, saya mengerjakan bagianku yaitu mengawasi pekerjaan. Terkait materialnya dan tukang tanggung jawab pak  Surianto selaku subkontraktor,” jelasnya.

Hingga proyek tersebut selesai kata Idhar, ternyata dirinya menambah anggaran hingga mencapai Rp 600 juta.

“Jadi anggarannya Rp 2 miliar, penyewaan alat sekira Rp 1 miliar belum lagi operasional. Dan kami juga didenda keterlambatan penyelesaian Rp 75 juta. Sedangkan gaji subkontraktor kami sejumlah Rp 963 juta,” ungkapnya.

“Proyek tersebut juga sudah diperiksa pihak berwenang dan tak ada kerugian Negara di situ, kami malah yang menyumbang kepada negara,” sambungnya.

Terkait pembayaran Surianto selaku subkontraktor sebesar Rp 965 juta telah kami bayar sekitar 95 persen.

“Kami sudah sering komunikasi, dan membangun kesepakatan, saya sampaikan ke pak Anto, ‘Pak kita pahami keadaanku, saya bayar cicilki itu’ dan dia mengiyakan. Jadi sekarang posisinya sisa sekitar 29 juta rupiah , sudah 95 persen utang terbayar,” katanya.

Idhar menyebut akan melunasi utang tersebut. Tapi saat ini dirinya belum bisa membayar ditambah dana dari Pemda Bone kepada para kontraktor belum dicairkan.

“Saya bukannya tidak mau bayar, saya selalu komunikasi kok sama pak Anto, tapi memang posisinya sekarang sulit. Ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi ini dan menggiring opini bahwa kami tidak bertanggung jawab,” katanya.

“Komunikasi kami dengan pak Surianto baik-baik aja kok, tidak ada masalah. Ada yang ingin memperkeruh situasi dan diduga ingin mengambil untung terkait hal ini yang notabenenya tak ada kaitannya dengan hal ini,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed