LEPASNEWS.COM BONE – Pagi itu, hasil pantauan Redaksi LepasNews.com suasana di sebuah pangkalan gas elpiji di Jalan Mangga, Kabupaten Bone, berbeda dari biasanya. Puluhan warga, sebagian besar ibu rumah tangga, berdiri berdesakan sambil menggenggam tabung gas kosong. Sabtu 01/08/2026.
Harapan mereka sederhana, membawa pulang satu tabung gas elpiji 3 kilogram agar dapur tetap bisa mengepul.
Kelangkaan gas elpiji bersubsidi yang terjadi dalam beberapa hari terakhir membuat masyarakat harus mengantre sejak pagi. Di sisi lain, harga gas di sejumlah titik penjualan dilaporkan melonjak hingga Rp30.000 bahkan Rp40.000 per tabung, jauh di atas harga yang biasa dibayar warga yang sebelumnya harga normal 21.000 sampai 23.000 rupiah.
Salah satu warga, Ibu Ani, mengaku rela meninggalkan pekerjaan rumah demi mengantre di pangkalan. Baginya, gas elpiji bukan sekadar kebutuhan biasa, melainkan penopang utama untuk menyiapkan makanan bagi keluarganya.
“Saya datang lebih pagi karena takut kehabisan. Kalau stok habis, terpaksa beli di luar dengan harga yang jauh lebih mahal. Itu sangat berat bagi kami,” tuturnya.
Kelangkaan tersebut tidak hanya memicu antrean panjang, tetapi juga menghadirkan keresahan di tengah masyarakat. Beberapa warga mengaku harus berkeliling dari satu pangkalan ke pangkalan lain karena stok cepat habis. Sebagian lainnya memilih pulang tanpa membawa gas karena tidak kebagian.
Kondisi ini berdampak langsung pada aktivitas rumah tangga. Banyak keluarga terpaksa menunda memasak atau mencari alternatif lain yang lebih mahal dan kurang praktis.
Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, dan susahnya tabung gas elpiji membuat ada kenaikan harga hingga 30Ribu bahkan ada 40ribu Rupiah per tabung tentunya ini menjadi beban tambahan di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Warga berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan evaluasi terhadap distribusi gas elpiji 3 kilogram, memastikan pasokan tersedia dan tepat sasaran, serta meningkatkan pengawasan agar tidak terjadi penjualan di atas harga yang semestinya apabila ditemukan pelanggaran.
Hingga berita ini diterbitkan, antrean warga di sejumlah pangkalan masih terjadi. Di balik tabung-tabung gas kosong yang dibawa pulang, tersimpan harapan agar kelangkaan segera berakhir dan dapur masyarakat Bone kembali menyala tanpa harus dibayangi antrean panjang maupun lonjakan harga.







