Gema Bahasa Leluhur di Hari Sumpah Pemuda, Komunitas Pabbicara Bone Cetak Sejarah Lewat Lomba Pidato Bahasa Bugis

LEPASNEWS.COM.BONE — Di tengah derasnya arus modernisasi yang kian menggerus penggunaan bahasa daerah di kalangan generasi muda, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menghadirkan sebuah langkah bersejarah.

Sebanyak 43 peserta dari delapan kecamatan ambil bagian dalam lomba pidato bahasa Bugis tingkat SD/MI/sederajat yang untuk pertama kalinya digelar oleh Komunitas Pabbicara Kabupaten Bone dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda 2026. Kamis 29/10/2026.

Kegiatan tersebut berlangsung mulai 29 Oktober sampai tgl 1 Nopember 2026 di Yayasan Al Hijrah Majang, Kegiatan ini bukan sekadar ajang adu kemampuan berbicara di atas panggung. Lebih dari itu, lomba tersebut menjadi ruang untuk membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap bahasa ibu, merawat kearifan lokal, serta meneguhkan identitas budaya Bugis di tengah perubahan zaman.

Melalui lantunan kata dan pidato dalam bahasa Bugis, para peserta membawa pesan penting bahwa warisan leluhur tidak boleh berhenti sebagai kenangan.

Bahasa daerah harus terus hidup, digunakan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kehadiran peserta dari delapan kecamatan menunjukkan bahwa semangat menjaga bahasa dan budaya Bugis mendapat ruang di kalangan pelajar. Mereka tidak hanya belajar menyampaikan gagasan, tetapi juga berlatih menumbuhkan keberanian, membangun kepercayaan diri, dan memahami nilai-nilai luhur yang terkandung dalam bahasa leluhur.

Ketua Pabbicara Kabupaten Bone, Ustadz Awalauddin Syah, menjadi salah satu tokoh di balik terselenggaranya kegiatan yang mengangkat martabat bahasa daerah tersebut.

Melalui lomba pidato bahasa Bugis tingkat SD/MI/sederajat, Pabbicara Bone berupaya memberikan ruang pembinaan bagi anak-anak agar mampu menggunakan bahasa daerah secara baik, berani tampil di depan umum, serta menyampaikan pemikiran dengan tetap berpijak pada nilai-nilai budaya sendiri.

Bagi masyarakat Bugis, bahasa bukan sekadar sarana komunikasi. Di dalamnya tersimpan petuah leluhur, tata krama, penghormatan kepada sesama, serta nilai siri’ na pesse yang menjadi bagian penting dari identitas dan kehidupan sosial masyarakat Bugis.

Nilai-nilai tersebut menjadi kekayaan budaya yang perlu diperkenalkan sejak dini agar tidak terputus oleh perubahan generasi.

Lomba ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelestarian bahasa daerah tidak cukup hanya melalui slogan. Dibutuhkan ruang praktik, pendidikan, keteladanan keluarga, serta kegiatan nyata yang melibatkan anak-anak sebagai penerus kebudayaan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri H. Andi Muawiyah Ramly, anggota DPR RI Komisi X dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang akrab disapa Puang Amure.

Kehadiran Puang Amure menambah perhatian terhadap upaya pelestarian bahasa dan budaya Bugis, khususnya melalui pendidikan serta pelibatan generasi muda.

Momentum Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa semangat persatuan Indonesia tidak berarti menghapus keberagaman bahasa dan budaya daerah. Sebaliknya, keberagaman itulah yang menjadi bagian penting dari kekayaan bangsa.

Bahasa Indonesia mempersatukan bangsa, sementara bahasa daerah menyimpan jejak sejarah, identitas, dan kebijaksanaan masyarakat yang telah diwariskan selama berabad-abad.

Karena itu, menjaga bahasa Bugis bukanlah langkah untuk menjauh dari identitas nasional. Justru, pelestarian bahasa daerah merupakan bagian dari upaya merawat kebudayaan Indonesia agar tetap berakar kuat di tengah perkembangan zaman.

43 Peserta dari Delapan Kecamatan, Membawa Harapan bagi Bahasa Leluhur

Keterlibatan 43 peserta dari delapan kecamatan menjadi salah satu catatan penting dalam penyelenggaraan lomba tersebut.

Di balik setiap penampilan, tersimpan harapan agar anak-anak Bone tidak hanya mengenal bahasa Bugis sebagai bahasa percakapan sehari-hari, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menyampaikan gagasan, nilai moral, dan pesan kebudayaan.

Panggung lomba menjadi ruang bagi para peserta untuk membuktikan bahwa bahasa daerah tetap dapat digunakan dalam kegiatan pendidikan yang membangun kemampuan berpikir, berbicara, dan berkomunikasi.

Keberanian mereka tampil menggunakan bahasa Bugis juga menjadi simbol bahwa kebudayaan lokal memiliki tempat di tengah dunia pendidikan modern.

Langkah ini sekaligus membuka peluang bagi sekolah, keluarga, dan komunitas kebudayaan untuk memperluas kegiatan serupa sehingga penggunaan bahasa daerah tidak hanya bertahan di lingkungan keluarga, tetapi juga tumbuh dalam kegiatan pendidikan dan ruang publik.

Penyelenggaraan lomba pidato bahasa Bugis tingkat SD/MI/sederajat ini menjadi catatan tersendiri karena disebut sebagai kegiatan pertama di Kabupaten Bone dalam kategori tersebut.

Inisiatif Pabbicara Bone menghadirkan harapan baru bagi pengembangan kegiatan kebahasaan dan kebudayaan yang melibatkan generasi muda.

Di tengah perkembangan teknologi, media sosial, dan perubahan pola komunikasi, bahasa daerah membutuhkan ruang agar tetap dipelajari, digunakan, dan dibanggakan.

Jika tidak diwariskan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bahasa daerah berisiko semakin kehilangan tempat di tengah masyarakat. Sebaliknya, ketika anak-anak dibiasakan mengenal dan menggunakannya, bahasa tersebut memiliki peluang lebih besar untuk terus hidup lintas generasi.

Dari panggung sederhana sebuah perlombaan, tumbuh pesan besar tentang pentingnya menjaga warisan leluhur. Sebanyak 43 peserta yang datang dari delapan kecamatan menjadi bagian dari upaya tersebut.

Mereka bukan hanya peserta lomba, melainkan juga generasi penerus yang diharapkan mampu membawa bahasa dan budaya Bugis melangkah menuju masa depan.

Sumpah Pemuda: Bersatu Tanpa Kehilangan Akar Budaya

Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober mengingatkan bangsa Indonesia tentang pentingnya persatuan di tengah keberagaman.

Semangat itu pula yang relevan dengan penyelenggaraan lomba pidato bahasa Bugis di Kabupaten Bone. Generasi muda didorong untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, sekaligus tetap mengenal bahasa, tradisi, dan nilai-nilai yang diwariskan oleh orang tua serta leluhur mereka.

Menjaga bahasa daerah bukan berarti menolak kemajuan. Justru, generasi yang mengenal akar budayanya diharapkan mampu melangkah lebih percaya diri menghadapi masa depan tanpa kehilangan jati diri.

Melalui kegiatan ini, Komunitas Pabbicara Bone menghadirkan pesan bahwa pelestarian kebudayaan dapat dimulai dari langkah nyata, dari lingkungan pendidikan, dan dari keberanian anak-anak untuk berbicara menggunakan bahasa ibunya.

Dari Bone, gema bahasa leluhur kembali mendapatkan panggung. Dari suara generasi muda, harapan untuk menjaga warisan budaya kembali dinyalakan.

Lestarikan bahasa, rawat budaya, dan wariskan jati diri kepada generasi berikutnya.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *