Kejahatan dan Kebaikan, Dua Anugerah yang Mengajarkan Manusia Tentang Keikhlasan

Berita, Pendidikan3 Dilihat

Oleh: Andi Singkeru Rukka

Akademisi dan Tokoh Pemuda

BONE. LEPASNEWS.COM.- Ada saatnya manusia berhenti bertanya mengapa kejahatan ada di dunia. Sebab, tanpa disadari, keberadaan kejahatan justru mengajarkan arti kesabaran, keikhlasan, dan keadilan yang sejati.

Begitu pula kebaikan, ia hadir bukan semata-mata karena hebatnya manusia, melainkan karena Allah berkehendak menghadirkannya.

Sejatinya, manusia lahir dalam keadaan zero—kosong, hampa, tanpa memiliki apa pun. Apa yang dimiliki hari ini hanyalah titipan, dan apa yang dilakukan tidak akan pernah lepas dari izin Sang Pencipta.

Karena itu, jangan terlalu membenci kejahatan hingga kebencian menguasai hati. Jangan pula terlalu menyukai kebaikan hingga melahirkan kesombongan.

Keduanya adalah bagian dari ketetapan Allah yang mengandung pelajaran bagi manusia.

Hiduplah seadanya. Jalani hidup dengan hati yang tenang, tanpa merasa paling benar, tanpa merasa paling suci. Sebab, ketika manusia mengambil alih hak Allah untuk menghakimi, saat itulah manusia sedang melampaui batas kemanusiaannya.

Alam semesta memiliki hukum yang tidak pernah keliru. Allah adalah Pemilik keadilan yang tidak pernah tertukar antara benar dan salah. Tidak ada satu pun kejahatan yang luput dari pengawasan-Nya, dan tidak ada satu pun kebaikan yang hilang dari perhitungan-Nya.

Keikhlasan menghadapi kejahatan bukan berarti membenarkan keburukan. Keikhlasan adalah keyakinan bahwa Allah tidak pernah tidur.

Dia mengetahui setiap air mata korban, setiap kezaliman yang disembunyikan, dan setiap dosa yang dilakukan secara diam-diam. Ketika manusia mampu menyerahkan urusan itu kepada-Nya, maka Allah-lah yang akan menunjukkan keadilan menurut waktu dan cara-Nya.

Begitu pula ketika menerima kebaikan. Jangan pernah merasa bahwa semua itu lahir karena kecerdasan, jabatan, kekayaan, atau kekuatan diri. Semua hanyalah anugerah.

Jika Allah berkehendak, dalam sekejap semuanya dapat diambil kembali.

Manusia hanyalah musafir yang singgah sebentar di dunia. Tidak ada yang pantas disombongkan, tidak ada yang pantas dibenci secara berlebihan. Yang patut dijaga hanyalah hati agar tetap ikhlas, tetap rendah hati, dan tetap percaya bahwa Allah adalah sebaik-baik Hakim.

Maka, jangan sibuk menjadi hakim bagi sesama. Sibukkanlah diri menjadi manusia yang terus memperbaiki diri. Sebab pada akhirnya, bukan manusia yang menentukan putusan terakhir, melainkan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Adil.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *